Anak Rantau,  Bahasa Indonesia,  Cerita Chester

Ikut Main di Captain America : The First Avenger? (Part 2 : Shooting)

First of all, kalau ditanya foto-foto selama shooting, maaf saja gue gak ada karena memang dilarang untuk bawa HP, kamera dan sejenisnya. Bahkan selama proses shooting itu, kami harus menandatangani perjanjian kerahasiaan dan kalau ketahuan menyebarkan sedikitpun di media sosial bisa langsung dituntut.

Hari pertama sangat menegangkan, lebih karena gue gak kenal satu orangpun. Tapi semua crew & cast ramah dan baik banget. Dari pagi buta, kami para extra sudah diberikan star treatment alias didandanin oleh make up artist beneran, dapat makan makan berlimpah dan tidak dibedakan dengan crew yang lain.

Sayangnya di hari pertama ternyata kami tidak shooting sama sekali karena shooting yang dilakukan di Manchester belum selesai sehingga kami dipulangkan lebih cepat. Baru pada hari kedua akhirnya kami shooting.

Shooting di Liverpool ini adalah untuk satu adegan (yang menurut gue sangan ikonik) yaitu adegan kejar-kejaran Steven Rogers dengan Heinz Kruger yang mengendarai taksi warna kuning.

Adegan itu bisa dibilang sangat singkat tetapi shooting dilakukan selama hampir 5 hari full, dari pagi buta sampai malam. Memang setiap adegan sekecil apapun sangat diperhatikan.

Yang lebih membuat gue kagum adalah staff wardrobe dan make up sangat memperhatian kami para extra. Kalau dipikir kan sebenarnya belum tentu kami akan kelihatan di kamera. Tapi gue sampai punya “staff pribadi” yang setiap kali sutradara berteriak “cut” langsung berlari ke tempat saya dan sibuk membetulkan rambut saya. Apalagi saat itu sedang musim hujan sehingga sering sekali shooting terpaksa terhenti untuk menunggu hujan reda. Jika gue sedang tidak on camera, gue bisa berteduh di gedung terdekat, tapi kalau on camera gue tetap harus di lokasi yang sama untuk menjagai continuity. Saat seperti itu, gue sampai dijaga beberapa staff yang siap membawakan payung dan membetulkan rambut serta riasan gue.

Gue hanya seorang extra lho! Nah, gimana yang aktor beneran ya?

Di hari ketiga, walaupun baru kenal tapi kami para extra langsung akrab. Kami langsung bergosip mengenai kemungkinan aktor utama akan ikut di shooting kami itu karena di hari kedua semua adegan dilakukan oleh stuntman (pemeran pengganti) yang dari jauh sangat mirip dengan Chris Evans.

Di awal hari ketiga, shooting masih tetap dilakukan di lokasi yang sama, untuk mengambil adegan yang sama juga namun dengan angle yang berbeda. Tetapi seperti hari kedua, Steve Rogers masih diperankan oleh stuntman. Sampai ada satu anak extra yang masih berumur 16 tahun kesal sendiri karena dia sangat ingin bertemu Chris Evans.

Setelah makan siang, shooting dilanjutkan di lokasi yang berbeda walaupun masih di jalan yang sama. Kami harus melewati sebuah jembatan yang cukup sempit untuk mencapai lokasi. Saat berjalan tiba2 gue merasa ada yang menabrak saya dan langsung menoleh sepintas untuk meminta maaf. Orang itu memakai kostum Steve Rogers. Karena dari kemarin hanya bertemu stuntman, gue dan teman-teman extra tidak begitu peduli.

Tidak lama kemudian salah satu extra mencolek saya “wait, isn’t that the stuntman? (tunggu deh, bukannya itu stuntmannya?)” sambil menunjuk orang dengan kostum Steve Rogers dan berdiri cukup jauh dari kami dan tiba-tiba satu sosok Steve Rogers lain mendekati orang itu.

Barulah kami sadar bahwa yang barusan menabrak saya adalah Chris Evans! Kami langsung lihat-lihatan siap berteriak tapi tiba-tiba dipanggil oleh koordinator extra untuk segera menempati posisi yang sudah ditentukan.

Ternyata kehadiran Chris Evans cukup membuat kami lebih semangat walaupun sebelumnya kami cukup mengantuk dan kedinginan karena hujan gerimis masih belum berhenti.

Posisi gue saat itu adalah bersembunyi di balik mobil bersama dengan Paulo, salah seorang extra yang berasal dari Italia. Gue sampai hafal namanya karena Paulo ini sering banget digodain oleh cewek-cewek yang lain berhubung dia ganteng banget. Cita-citanya adalah menjadi aktor. Mungkin sekarang dia sudah jadi aktor beneran ya.

Shooting hari itu terasa lebih panjang dari hari-hari sebelumnya karena banyak sekali adegan yang harus diambil. Tapi karena jumlah extra cukup banyak sekitar 30an orang, kami tidak bosan karena selama menunggu pasti ada saja bahan pembicaraan yang menarik.

Beberapa extra yang senior juga bercerita bagaimana mereka sering ikut menjadi extra di film Hollywood yang lain dan menceritakan aktor/aktris mana saja yang ramah dan mana yang sombong. Gue sih sudah lupa siapa aja yang dulu kami gosipin.

Keesokan harinya saya tidak mendapatkan panggilan untuk shooting sehingga gue menghabiskan waktu jalan-jalan di kota Liverpool dan akhirnya memutuskan untuk pergi menonton film di bioskop. Inget banget waktu itu nonton Scott Pilgrim VS The World. Tapi baru saja gue duduk, tiba-tiba gue ditelpon untuk segera datang ke tempat shooting. Sudahlah, selamat tinggal Scott Pilgrim.

Untuk hari ke-empat ini tidak begitu banyak hal yang harus dilakukan. Sepertinya mereka memang hanya ingin mengambil footage tambahan saja karena gue pulang tidak terlalu malam dan keesokan harinya sudah tidak dipanggil shooting lagi.

Memang hanya sebentar saja tapi cukup menjadi hal yang sangat tidak bisa dilupakan. Kapan lagi ikutan shooting film Hollywood? Walaupun cuma extra dan adegan gue sebenarnya entah masuk atau gak di film yang ditayangkan. At least tetap dibayar dan mendapatkan banyak pengalaman baru.

Tapi dari semua, yang paling gue inget malahan makanan kateringnya. Sangat enak! Apalagi untuk gue yang waktu itu masih kuliah dan hidup ngirit banget.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *