Anak Rantau,  Bahasa Indonesia,  Cerita Cambridge,  England (Inggris)

Roommate Pertama

Tahun pertama di Cambridge, saya tinggal di sebuah Hall of Residence (asrama gitu lah) dengan Ibu Asrama bernama Sally yang cukup ditakuti oleh penghuni rumah yang lain. Saat itu murid yang tinggal serumah ada 11 orang dari berbagai negara. Ini pertama kalinya saya harus tinggal jauh dari keluarga dan karena masih dibawah umur (15 tahun), sekolah mewajibkan untuk tinggal di Hall of Residence atau Host Family (tinggal di rumah penduduk lokal).

Walaupun sudah lama berlalu, namun masih sangat jelas di ingatan saat pertama kali memasuki kamar pertama saya di Inggris tersebut. Kamar saya berada di lantai 2 dengan ukuran yang sangat luas dan memiliki jendela besar sekali yang menghadap ke jalan raya. Isi kamar tidak begitu banyak, ada 2 tempat tidur single, 2 meja belajar yang berhadapan dan berada tepat di sebelah jendela, 2 lemari pakaian kecil dan rak buku di tembok sebelah tempat tidur.

Cukup normal. Hanya saja ada satu hal yang membuat bingung yaitu…di dalam kamar ada shower box. Bukan kamar mandi, namun benar-benar tempat mandi di dlm ruangan, hanya ditutupi oleh pintu yang tembus pandang. Biasanya kalau kost-an di Indonesia kan ada promosi “kamar mandi di dalam” artinya ada sebuah ruangan tersendiri sebagai kamar mandi. Nah, ini bukan. Tempat mandi adalah di dalam kamar tidur. Jadi, kalau ada yang lagi mandi, orang lain yang ada di dalam kamar bisa melihat dengan jelas.

Shower box di kamar saya seperti ini

Saya kemudian bertemu dengan teman sekamar yang berumur 2 tahun di atas saya (sebut saja namanya V) yang berasal dari Taiwan. Saat itu di Indonesia sedang happening banget serial Meteor Garden sehingga saya sangat senang mendapatkan teman dari negara asal serial TV tersebut.

V adalah orang yang mudah bergaul dan baik. Namun ada satu kebiasaannya yang membuat saya bingung dan agak kurang nyaman terutama di awal-awal tinggal sekamar dengannya. V selalu tidur dengan telanjang bulat.

Saat pertama tahu, saya bingung bagaimana harus bersikap namun lama kelamaan mulai terbiasa dan berusaha mengatur waktu di kamar sehingga tidak merasa awkward di kamar sendiri. Contohnya adalah bangun selalu jauh lebih pagi sehingga bisa mandi dengan tenang dan setiap malam sebisa mungkin tidur lebih dulu daripada dia.

Hal ini sebenarnya sangat membantu saya untuk bangun pagi karena memang letak sekolah cukup jauh dari asrama yaitu perlu berjalan paling tidak 45 menit. Karena saya bangun pagi, sehingga tidak pernah terlambat masuk kelas dan bisa berangkat dengan tidak terburu-buru.

Walaupun demikian, V ini benar-benar teman yang baik dan sangat perhatian dengan teman. Kami menjadi teman sekamar tidak sampai 1 tahun karena dia memutuskan untuk menyewa apartment bersama teman-temannya.

Inilah sekilas pengalaman saya saat pertama kali merasakan tinggal di asrama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *